Sangkuriang dan Asal Mula Tangkuban Perahu

Sangkuriang dan Asal Mula Tangkuban Perahu

Sangkuriang dan Asal Mula Tangkuban Perahu – Cerita rakyat tentunya menjadi kisah yang selalu diceritakan dari generasi ke generasi. Untuk masa pandemi seperti ini, dari pada bingung ingin melakukan kegiatan apa. Sebaiknya memberikan kisah menarik untuk menghibur si kecil ditengah-tengah waktu yg sangat membosankan seperti ini.

Sangkuriang dan Asal Mula Tangkuban Perahu

Cerita Rakyat Sangkuriang dan Asal Mula Tangkuban Perahu

Hiduplah seorang ibu & seorang anak laki-lakinya serta dengan seokor anjing di sebuah desa Citarum. Ibu itu bernama Dayang Sumbi, anak laki-lakinya bernama Sangkuriang, sementara nama anjing itu adalah Tumang

Sebenarnya Dayang Sumbi adalah wanita cantik yang mengandung anak nya dari seorang dewa yang dibuang kebumi dan dikutuk menjadi anjing yaitu si Tumang tadi. Suatu hari Dayang Sumbi ingin memakan jantung rusa.

Dirinya pun meminta Sangkuriang untuk pergi ke hutan berburu. Saat tidak berhasil mendapatkan rusa, Sangkuriang memunuh Tumah untuk diambil jantungnya. Tanpa dia ketahui kalau anjing siluman itu adalah ayah kandungnya.

Sangkuriang dan Asal Mula Tangkuban Perahu

Saat memasak jantung anjing tersebut, Dayang Sumbi tersadar kalau itu adalah jantung Tumang. Dirinya pun menjadi sangat marah kepada Sangkuriang, dan memuliki anaknya sampai ada bekas luka dikepala nya.

Hingga Sangkuriang merasa sakit hati lalu memutuskan untuk keluar rumah dan mengembara ke bagian timur. Seiring berjalannya waktu Sangkuriang tumbuh menjadi pria yang besar & dewasa.

Sementara Dayang Sumbi semakin cantik karena selalu menyembah dewa dan meminta umur panjang dan selalu awet muda. Hingga suatu hari Sangkuriang melewati rumah tempat kelahirannya tersebut, namun dirinya sudah tidak ingat kalau itu adalah rumahnya.

Karena sudah lama tidak bertemu dengan Dayang Sumbi, Sangkuriang tidak mengenali lagi wajah sang ibu. Dan saat mereka bertemu Dayang Sumbi jatuh hati kepada anaknya, dan begitu juga Sangkuriang jatuh cinta kepada ibunya sendiri.

Kemudian Sangkuriang ingin menikahi sang ibu, saat Dayang Sumbi membantu persiapan calon suaminya tersebut saat akan berburu dengan mengikatkan kain di kepalanya. Dayang Sumbi melihat ada bekas luka yang dulu pernah dia lakukan saat memukuli anaknya Sangkuriang.

Untuk membatalkan pernikahan Dayang Sumbi memberikan syarat kepada Sangkuriang. Yaitu membuat bendungan pada sungai Citarum dan di dalam danau tersebut terdapat perahu besar. Yang membuat tambah berat adalah perkataan  Dayang Sumbi “Sebelum fajar terbit, kedua permintaanku itu harus telah selesai engkau kerjakan”.

Sangkuriang mengambil sayarat itu dan mulai menyelesaikan bendungan tersebut. Dengan bantuan jin dirinya hampir selesai membuat bendungan tersebut. Namun Dayang Sumbi menebarkan boeh rarang (kain putih hasil tenunan). Memaksa ayam berkoko pada jam 5 subuh, sehingga para jin kabur tanpa menyelesaikan tugasnya tersebut.

Sangkuriang menjadi sangat marah, dirinya menjebol bendungan di Sanghyang Tikoro. Kemudian aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur hingga menjelma menjadi gunung Manglayang. Kekuatan saktinya menendang perahu yang tadi ia buat hingga jauh dan jatuh terlungkup sampai menjelma menjadi sebuah gunung yang kemudian disebut gunung Tangkuban Perahu.